
Seorang anggota gengster yang dikenal sadis di Garut, R alias Ebo (24) ditangkap polisi dari tim Reserse Mobile (Resmob) Polres Garut. Lucunya, Ebo ditangkap saat ketiduran di tempat cukur.
Saat ditangkap, R sempat melawan dan hendak menusuk petugas menggunakan sebilah pisau yang biasa ia bawa kemana pun.
Kasat Reskrim Polres Garut, AKP Maradona Armin Mappaseng, menyebut bahwa R merupakan gengster yang melakukan penganiayaan di wilayah Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut pada Januari 2019 terhadap Sotik hingga sekarat.
"Dalam aksinya ini R dibantu dua temannya yang berinisial IS dan SA yang sudah lebih dulu kita tangkap," kata Maradona, Sabtu (29/6).
Maradona mengungkapkan, pergerakan R cukup licin sehingga mampu menghindar saat petugas kepolisian hendak menangkapnya usai diketahui sebagai pelaku penganiayaan. R menghilang entah kemana saat proses perburuan terhadapnya terus dilakukan petugas.
"Kita kemudian menerima informasi bahwa R ini tengah tertidur di salah satu pangkas rambut di jalan Cilauteureun, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut. Kita langsung terjunkan tim Resmob dan saat sampai di lokasi ternyata memang benar R tengah tidur di atas kursi cukur rambut dalam posisi hendak dicukur jambangnya," ungkapnya.
Petugas sempat menunggu tukang cukur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Begitu selesai, petugas langsung menyergap. R terbangun dan berusaha menyerang dengan pisau yang disimpan di pinggangnya. Tapi kali ini, dia kalah cepat hingga akhirnya bisa dilumpuhkan.
R sendiri menurut Maradona memiliki dendam terhadap korban sehingga melakukan aksi penganiayaan brutal terhadap Sotik. Ia bersama dua temannya sengaja datang ke Cikajang untuk melakukan penganiayaan menggunakan kapak hingga sempat sekarat.
"Korban akhirnya bisa selamat meski luka parah akibat sabetan beda tajam dan pukul di bagian kepala dan dada. Karena aksinya itu, para tersangka kami jerat Pasal 170 KUHP dengan ancaman hukumannya maksimal 5 tahun penjara," katanya.